SUSU BERMELAMIN, SUATU BENTUK KEJAHATAN

Tue, 10/07/2008 – 02:28

Melamine Dalam Susu, Suatu Kejahatan

Nama melamine (C3H6N6) juga untuk sebutan dari melamin resin memiliki nama kimia 1,3,5-triazine-2,4,6-triamine. Sebutan lain adalah cyanuramide. Melamin resin sesungguhnya sejenis plastik yang terbentuk dari melamin dengan formaldehid (formalin absolut). Melamin bisa dihasilkan melalui dua cara, pertama biasa dilakukan di industri petrokimia yang memproduksi dan memanfaatkan urea, dengan cara mendekomposisi urea menjadi asam sianik (HCNO) dan amonium (NH3), selanjutnya asam sianik mengalami polimerisasi menjadi melamine dan karbondioksida (CO2) sesuai persamaan 6 (NH2)2CO → C3H6N6 + 6 NH3 + 3 CO2 . Kedua melamin diperoleh dengan cara Liebig (1834), yakni dengan mengonversi senyawa sodium sianamid (calcium cyanamide) menjadi dicyandiamide, selanjutnya senyawa terakhir itu dipanaskan di atas titik didihnya untuk dihasilkan melamine(Anonim, 2008).

Manfaat melamine, sebagai bahan pembuat plastik (melamin resin) kualitas baik (tahan lama) yang banyak untuk memproduksi alat-alat rumah tangga, bahan pembersih, penghapus, perekat (lem), pewarna tinta Pigment Yellow 150, hingga material untuk pemadaman api (pemadam kebakaran). Pertanyaannya mengapa melamin bisa nyasar hingga ke susu bubuk dan pakan ternak?
Perlu dipahami bahwa susu dan produk ikutannya, hingga pakan ternak, memiliki persyaratan mutu kadar protein minimal. Untuk mencapai persyaratan itu tidaklah mudah. Diawali dari kesehatan ternak dan mutu pakan sapi yang baik, untuk diperoleh susu cair yang memenuhi standar pabrik, antara lain kadar protein minimal 3,5 % dan lemak 4 %. Selanjutnya air susu dengan kualifikasi standar, dibuat beragam produk seperti: full cream milk, skim milk, tone milk dan susu kental manis yang mempersyaratkan kadar protein tertentu, begitu seterusnya. Hingga susu bubuk dan pakan ternak pun mempersyaratkan kadar protein minimal pula.
Untuk memenuhi persyaratan kadar minimal protein suatu produk tidaklah mudah. Disinilah, kejahatan berawal. Melamin yang berupa kristal putih itu ditambahkan untuk mendongkrak hasil uji protein. Pada uji protein kuantitatif kasar tidak langsung baik metode makro Kjeldhal atau Dumas, semua berdasarkan pada seberapa banyak unsur N (nitrogen) yang dilepas biomassa – melalui hidrolisis sample – untuk selanjutnya unsur N tadi dititrasi dengan bantuan indikator (Winarno, 1984). Volume titran yang dipakai setelah dikalikan bilangan konversi tertentu nilainya setara dengan jumlah N (protein) dari sample tadi.
Melamin merupakan senyawa sumber nitrogen (N) dan bukan protein. Protein juga nutrisi sumber N. Karena uji protein di atas, tidak bisa mendeteksi asal-usul nitrogen, maka diasumsikan semua unsur N, berasal dari protein. Oleh sebab itu, penambahan melamin pada produk, sanggup mendongkrak kadar “protein”nya. Ini suatu bentuk kejahatan! Apa pasalnya?

Bentuk Kejahatan

Regulasi yang dikeluarkan oleh The Food Safety and Inspection Service (FSIS) Departemen Pertanian Amerika Serikat (BPOM-nya AS), mempersyaratkan produk peternakan seperti telur, daging dan turunannya, bebas dari residu cyromazine dan melamine. Pada jaringan hidup, melamine merupakan produk metabolit dari senyawa cyromazine(pestisida). FSIS juga menerapkan labelisasi produk bebas melamin. Sementara di Cina sendiri, melamine termasuk produk dalam pengawasan. Namun justru dari negeri tirai bambu itulah, kasus kematian 4 bayi dan puluhan ribu bayi terkena dampak toksik dari melamine yang ditambahkan pada susu formula.
Melamine memiliki toksisitas yang tingi bila bersenyawa dengan molekul lain. Jika dalam bentuk tunggal, melamine tidak begitu berbahaya (pada dosis rendah). Bahan itu memiliki indek LD50 (dosis kematian 50 % hewan/manusia) > 3000 ppm pada uji coba tikus dan LD50 > 1000 ppm pada kelinci. Juga jika terhirup menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Yang paling dikhawatirkan jika bersenyawa dengan asam sianurik (cyanuric acid) membentuk melamine cyanurate (batu ginjal) yang menyebabkan gangguan kandung kemih sampai gagal ginjal, sebagaimana yang menyebabkan tewasnya bayi-bayi di Cina itu.

Jauh sebelum kasus melamine pada susu formula bayi, produk mainan eks Cina yang terkenal murah itu diketahui juga terkontaminasi bahan kimia berbahaya seperti formalin. Sehingga produk mereka ditolak masuk ke banyak negara, termasuk Amerika Serikat, negara yang paling ketat menerapkan standar keamanannya untuk makanan dan minuman itu.

Dengan demikian, penambahan melamine yang disengaja pada makanan dengan tujuan untuk mendongkrak hasil uji protein, sementara diketahui bahwa bahan itu mengandung risiko bahaya dan diketahui (terbukti) bahan itu menyebabkan gangguan kesehatan konsumen, hal ini jelas-jelas suatu tindak kejahatan. Ini sesuai UU No.7/1996 tentang Pangan (Anonim, 2000) dan UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen (Anonim, 2001).

Ihwal penerapan standar keamanan produk yang ketat di AS, khususnya makanan dan minuman serta hasil-hasil pertanian itu, sungguh menarik mengutip isi pidato Presiden George W. Bush pada suatu forum bertajuk “Future Farmer of America”, tanggal 27 Juli 2001 di Washington DC, dia berkata, “It’s important to our nation to build to grow foodstuff to feed our people. Can you imagine a country that was unable to grow enough food to feed the people? It would be nation subject to international pressure. If would be a nation at risk. So when we’re talking about American Agricultural, we’re really talking about a nation security (Sutanto, 2006).

Betapa besar perhatian Presiden Amerika Serikat terhadap nasib pertaniannya. Bahwa negara yang kuat bisa diraih dari ketahanan pangan (pertanian) negara itu. Sampai mensejajarkan soal pertanian (pangan) sama pentingnya dengan keamanan negara! Bagimana dengan Indonesia?

Bukan Bahan Tambahan Makanan

Di Indonesia melamine belum diakomodir dalam peraturan perundang-undangan, yang terkait dengan makanan dan minuman. Dia tidak pula tercantum sebagai pewarna yang dilarang dalam Permenkes No. 239/Menkes/PER/V/1985, tentang zat warna berbahaya. Namun juga tidak tercantum sebagai bahan tambahan makanan (BTM), baik sebagai pewarna sintetik, pengawet, pengental dan sejenisnya. Akan tetapi merujuk pada definisi tentang BTM, yakni suatu bahan non nutrisi yang sengaja atau tidak sengaja ditambahkan pada proses produksi dengan tujuan untuk peningkatan mutu produk, maka jelas melamine bukan kategori BTM. Lagi pula sesuatu yang belum/tidak diketahui efek/bahaya bahan itu bagi kesehatan, harus terlebih dahulu diuji keamanannya dan tidak diperkenankan ditambahkan pada proses produksi (Ps. 11 UU Pangan). Dengan demikian melamine bukan termasuk BTM.

Bagi kita, kasus melamin pada susu eks Cina dan kasus-kasus lain yang terjadi di Indonesia belakangan ini: menggoreng dengan campuran platik untuk meningkatkan kerenyahan, bakso dan tahu berformalin, daging glonggongan, daging sapi yang tercampur dengan daging celeng, pewarna tekstil pada makanan, penggunakan boraks pada tahu dan bakso, adalah contoh-contoh praktek kejahatan dalam industri pangan.

Kita sudah memiliki perangkat hukum yang memadai, aparat penegak hukum jumlah banyak, namun sampai saat ini penegakkan hukum, khususnya di bidang pangan dan minuman masih sangat lemah. Indikatornya, masih sangat minim kasus-kasus seperti itu (pelanggaran) yang diproses hingga pengadilan. Ini menjadi perhatian dan keprihatinan kita.

disadur dari :

Ir. Rohadi, MP.
Dosen teknologi Pangan USM
Humas PATPI Semarang

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: